Kerinci – detektifspionase.com
Jeritan petani kembali menggema di Bumi Sakti Alam Kerinci. Para petani di Desa KAM, Koto Lanang, Kayu Aho Mangkak hingga wilayah Rawang, Kota Sungai Penuh, mengeluhkan kerbau-kerbau yang dilepas bebas oleh oknum peternak tanpa pengawasan. Akibatnya, sawah yang telah digarap bertahun-tahun rusak porak-poranda.
Menurut keterangan salah satu pemilik sawah, kerbau yang masuk ke lahan pertanian bukan hanya satu atau dua ekor, melainkan berkali-kali dan dalam jumlah lebih dari satu. Tanaman padi yang menjadi harapan hidup petani diinjak, dirusak, bahkan gagal panen akibat ulah ternak yang tidak dipelihara sebagaimana mestinya.
“Kami membuka lahan sudah lama, bertahun-tahun. Sekarang sedang menjalankan program oplah lahan yang merupakan bagian dari program Presiden RI. Tapi dirusak begitu saja oleh kerbau yang dilepas liar,” ujar salah satu petani dengan nada kecewa.
Petani menilai ada pembiaran yang membuat situasi ini terus berulang. Mereka meminta aparat penegak hukum dan Pemerintah Kabupaten Kerinci segera turun tangan sebelum konflik horizontal benar-benar terjadi. Pasalnya, pemilik sawah merasa dirugikan, sementara pemilik ternak kerap merasa tidak bersalah.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin akan memicu keributan antarwarga. Pemerintah jangan menunggu sampai terjadi bentrok baru bertindak. Ketegasan sangat dibutuhkan demi menjaga ketertiban dan keadilan bagi masyarakat kecil.
Para petani mendesak Bupati Kerinci agar segera mengeluarkan langkah konkret dan memberikan sanksi tegas kepada peternak yang melepasliarkan ternaknya tanpa tanggung jawab. Penertiban harus dilakukan demi kelestarian alam Kerinci serta keberlangsungan hidup para petani yang selama ini menjadi tulang punggung ketahanan pangan daerah.
Nasib petani Kerinci hari ini sangat memprihatinkan. Sudah berjuang melawan hama, kini harus menghadapi “hama berkaki empat” yang dibiarkan berkeliaran. Pemerintah jangan abai. Suara petani adalah suara rakyat yang wajib didengar dan dilindungi. (Agus)