Jambi detektifspionase.com - Kekalahan PS Kerinci di ajang Gubernur Cup 2026 menjadi pukulan telak sekaligus alarm keras bagi dunia sepak bola Kabupaten Kerinci. Hasil buruk tersebut dinilai bukan semata karena kualitas pemain, melainkan lemahnya sistem seleksi yang tidak dilakukan secara merata di seluruh wilayah Kerinci.
Warga berharap manajemen PS Kerinci segera melakukan evaluasi total, terutama dalam proses perekrutan pemain yang dinilai “seleksi patah tengah” dan cenderung hanya berfokus pada wilayah tertentu saja.
Pengamat sepak bola sekaligus mantan pemain PS Kerinci, Maidi Hartono, menegaskan bahwa Kerinci sejatinya memiliki banyak talenta sepak bola yang mumpuni. Namun, potensi tersebut tidak tergali karena proses seleksi yang tidak melibatkan seluruh daerah.
“Tidak mungkin Kerinci tidak punya pemain hebat. Yang jadi persoalan, Kerinci bagian hilir hampir tidak pernah dilibatkan dalam seleksi. Dari Binhar saja hanya satu pemain yang diambil, itu pun tidak dimainkan,” ujar Maidi.
Menurutnya, PS Kerinci harus mulai berbenah secara serius jika ingin bersaing di level provinsi. Maidi membandingkan dengan Kota Sungai Penuh yang secara wilayah lebih kecil, namun mampu membentuk tim yang solid karena seleksi pemain dilakukan secara terbuka dan merata.
Kekecewaan juga datang dari masyarakat Kerinci. Mereka menilai sistem seleksi yang ada saat ini tidak mencerminkan keadilan dan justru mematikan semangat pemain-pemain berbakat di daerah hilir.
“Kalau bisa seleksi itu jangan sampai di mudik saja. Memang kami di ilir tidak ada pemain?” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.
Masyarakat berharap ke depan PS Kerinci membuka seleksi secara menyeluruh, melibatkan seluruh kecamatan tanpa pengecualian, agar tim yang terbentuk benar-benar mewakili potensi sepak bola Kerinci secara utuh, bukan hanya segelintir wilayah.
Penulis: Dap
Editor: Dap


Facebook Comments