Ketika Alam Menggugat: Cerita Pilu dari Kaki Gunung Kerinci

‎CERITA RAKYAT YANG MALANG

‎Kerinci, detektifspionase.com –Setiap kali musim hujan tiba, hati warga Kerinci—khususnya yang tinggal di kaki Gunung Kerinci, Kayu Aro—selalu dipenuhi rasa was-was. Di Bedeng Dua, wilayah yang sejak dulu dikenal rawan longsor dan pernah merenggut nyawa manusia, bayang-bayang bencana itu kembali hadir. Tepat pada 27 November 2025, tragedi serupa kembali terjadi. Meski kali ini tak ada korban jiwa, kerugian materi tak bisa dihindarkan.

‎Dalam sebuah unggahan, Ibu Dewi, warga Bedeng Dua, meluapkan keresahan hatinya. Bencana yang berulang ini seolah membawa kita pada satu pertanyaan besar: Siapa yang harus disalahkan?

‎Apakah alam? Apakah Tuhan? Ataukah manusia?

‎Satu hal yang pasti—ini adalah teguran keras. Bukan hanya bagi warga, tetapi terutama untuk para pemimpin. Kerusakan lingkungan bukan muncul begitu saja. Dari tambang ilegal yang hanya mengejar kekayaan pribadi, penebangan kayu tanpa izin, hingga isu galian C yang diduga beroperasi secara ilegal—semuanya adalah bentuk kenakalan manusia yang mengorbankan masa depan lingkungan.

‎Lalu, apakah pemerintah benar-benar tidak tahu?

‎Atau pura-pura tidak tahu?

‎Atau mungkin ada kepentingan lain yang lebih kuat daripada keselamatan rakyat?

‎Di satu sisi, para pengusaha galian dan tambang bisa saja memilih untuk pura-pura buta, pura-pura tuli. Namun di sisi lain, rakyat kecil harus menanggung dampak dan penderitaannya. Setiap hujan deras menjadi ancaman. Setiap longsor menjadi momok yang selalu menghantui.

‎Inilah suara rakyat yang malang—suara dari kaki Gunung Kerinci—yang berharap ada perubahan nyata. Sebelum bencana berikutnya datang, sebelum ada nyawa yang kembali melayang, sebelum alam benar-benar kehilangan kesabaran.

Penulis: Daprizal

Editor: Daprizal

Facebook Comments

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.